Wednesday, December 2, 2009

Pendidikan Anak Usia Dini

KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Pengarang : Dra. Hibana S. Rahman, M.Pd

Resume Oleh : Khairani

I. PENDAHULUAN

A. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini

Untuk memahami tentang konsep pendidikan anak usia dini terlebih dulu kita melihat pengertian tentang pendidikan anak usia dini menurut :

1. Prof. Marjory Ebbeck (1991) seorang pakar pendidika anak usia dini dari Australia menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah pelayanan kepada anak-anak mulai lahir sampai umur delapan tahun.

2. Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 21 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut

Pendidikan pra sekolah merupakan pendidikan yang diberikan kepada anak diluar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar. Sedangkan pendidikan usia dini adalah pendidikan yang diawali dari pendidikan keluarga, dilanjutkan dengan playgroup, taman kanak-kanak dan SD kelas awal.

B. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Anak Usia Dini

Tujuan pendidikan anak usia dini secara umum adalah:

”Memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal dan menyeluruh sesuai dengan norma-norma dan nilai kehidupan yang dianut. Melalui program pendidikan yang dirancang dengan baik, anak akan mampu mengemabangkan segenap potensi yang dimiliki, dari aspek fisik, sosial, moral, emosi kepribadian dan lain-lain”

Sedangkan tujuan Pendidikan Anak Usia Dini secara khusus adalah adalah agar supaya anak:

1. Mampu mengelola gerakan dan ketrampilan tubuh , termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus dan gerakan kasar.

2. Memperoleh pengetahuan tentang pemeliharaan tubuh, kesehatan dan kebugaran tubuh.

3. Mampu berpikir secara kritis, memberi alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.

4. Mampu memanfaatkan indera penglihatan dan dapat memvisualisasikan suatu objek, termasuk mampu mencipatakan imajinasi mental internal dan gambar-gambar.

5. Mampu mengembangkan konsep diri dan sikap positif belajar, kontrol diri dan rasa memiliki.

6. Mampu mengembangkan keingintahuan tentang dunia, kepercayaan diri sebagai anak didik, kreativitas dan inisiatif pribadi.

7. Mampu memahami keadaan diri manusia secara internal, refleksi diri, berfikir metakognisi dan menyadari adanya kenyataan-kenyataan spiritual, moral dan kepercayaan agama.

8. Mampu mengenal, memahami serta mengapresiasikan flora dan fauna dan lingkungan alam sebagai kebesaran ciptaan Allah.

9. Mampu mengenal peranan masyarakat, kehidupan sosial dan respek terhadap keragaman sosial dan budaya.

10. Mampu menggunakan bahasa untuk dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk belajar dan berfikir. Mampu menghargai dan menginternalisasikan nilai-nilai moral dan agama.

11. Mampu mengenal pola-pola bunyi dalam suatu lingkungan yang bermakna, memiliki sensitivitas terhadap irama, serta mengapresiasikan seni, kemanusiaan dan ilmu pengetahuan.

Adapun fungsi pendidikan anak usia dini atau lebih khusus adalah pendidikan prasekolah dapat dirumuskan lima fungsi yaitu:

  1. Penanaman Aqidah dan keimanan
  2. Pembentukan dan pembiasaan perilaku positif
  3. Pengembangan pengetahuan dan ketrampilan dasar
  4. Pengembangan motivasi dan sikap belajar positif
  5. Pengembangan segenap potensi yang dimiliki.

C. Ruang Lingkup Anak Usia Dini

Anak usia dini adalah anak usia 0-8 tahun. Karena pada usia tersebut anak mengalami lompatan perkembangan, kecepatan perkembangan yang luar biasa dibanding usia sesudahnya. Atau disebut juga usia emas yang tidak akan terulang lagi. Adapun tahapannya adalah:

Usia 0-1 tahun, usia bayi

Usia 1-3 tahun, usia batita(bawah tiga tahun)

Usia 4-6 tahun, usia prasekolah

Usia 7-8 tahun, usia SD kelas awal

D. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini memegang peranan yang sangat penting dan menentukan bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya, karena pendidikan anak usia dini merupakan pondasi bagi dasar kepribadian anak. Bila ditinjau dari perkembangan otak manusia, maka tahap perkembangan otak pada usia dini menempati posisi yang paling vital, yakni mencapai 80% perkembangan otak. Lebih jelasnya bayi lahir telah mencapai perkembangan otak 25% orang dewasa, untuk mencapai perkembangan otak otak manusia 50% dicapai hingga 4 tahun, 80% hingga 8 tahun dan selebihnya diproses hingga anak usia 18 tahun. Dengan demikian usia 0-8 tahun memegang peranan yang sangat besar karena perkembangan otak mengalami loncatan dan perkembangan pesat. Oleh karena itu usia dini juga disebut”Golden Age”, usia emas karena perkembangannya yang luar biasa.

E. Sejarah Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini dalam sejarahnya mengalami perkembangan yang berarti khususnya di negara Indonesia. Pada masa pemerintahan kolonial belanda sudah ada pendidikan anak-anak, namun masih terbatas untuk kalangan anak-anak berketurunan Belanda dan bangsa-bangsa Eropa lainnya. Sangat sedikit anak pribumi yang diizinkan untuk mengikuti pendidikan mereka, kecuali hanya yang berketurunan ningrat atau bangsawan. Untuk penduduk biasa belum banyak tersentuh. Materi yang digunakan banyak diimpor dari Belanda, yakni model froebel dan model montesory. Pada saat itu juga muncul inisiatif oleh organisasi Muhammadiyah yakni ’Aisyiyah untuk membangun lembaga pendidikan untuk anak dengan nama Bustanul Athfal yang kemudian di kenal dengan Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA). Upaya tersebut dilakukan guna meningkatkan sikap nasionalisme sejak usia dini. Pada masa pemerintahan Jepang negara kita mengalami tekanan sehingga pendidikan tetap bisa berjalan tapi dalam keadaan merosot. Selanjutnya pada masa pemerintahan Orde Lama dengan kondisi negara yang masih kacau balau pendidikan anak usia dini terus berjalan salah satunya dengan terbentuknya yayasan pendidikan yang selanjutnya membuka sekolah lanjuta pendidikan guru TK nasional di Jakarta, kemudian dikeluarkannya undang-undang No.4 tahun 1950 tentang pokok pendidikan pengajaran secara resmi Taman Kanak-kanak mulai diakui sebagai komponen dari sistem pendidikan nasional. Pada pemerintahan Orde Baru mulai di bentuk organisasi-organisasi dan perkumpulan seperti IGTKI, GOPTKI dan lain-lain. Sehingga terlaksananya pendidikan yang bermanfaat melalui berbagai kegiatan. Semenjak disahkannya Undang-undang Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 yang didalamnya menyinggung masalah pendidikan anak usia dini, diikuti dengan pembentukan Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini maka perkembangan pendidikan anak usia dini semakin mantap.

F. Perkembangan Pendidikan Anak Usia Dini

Dari abad ke abad pendidikan anak usia dini terus berkembang, sehingga sampai melibatkan berbagai profesi lain seperti psikolog, dokter anak, psikiater dan sebagainya sehingga pendidikan dan perkembangan jiwa anak semakin mendapatkan perhatian dan pelayanan.

II. KARAKTERISTIK ANAK USIA DINI

Anak adalah manusia aktif. Mendidik anak berarti mengaktifkan, bukan mengendalikan

Kondisi anak ditentukan oleh faktor bawaan dan lingkungan, faktor bawaan hanya perlu satu detik, untuk dibawa sepanjang usianya. Faktor lingkungan, dapat direkayasa hingga batas yang tak terhingga

A. Pentingnya Memahami Anak Usia Dini

Alasannya pentingnya memahami karakteristik anak usia dini yaitu sebagai berikut:

1. Usia dini merupakan usisa yang paling penting karena pada usia tersebut diletakkan dasar struktur kepribadian yang dibangun sepanjang hidup. Makanya diperlukan pendidikan yang tepat.

2. Pengalaman awal sangat penting, sebab dasar awal cenderung bertahan dan akan mempengaruhi sikap dan perilaku sepanjang hidup, disamping itu dasar awal akan cepat berkembang menjadi kebiasaan. Oleh karena itu perlu pemberian pengalaman awal yang positif.

3. Perkembangan fisik da mental mengalami kecepatan yang luar biasa, dibanding dengan sepanjang usianya, bahkan usia 0-8 tahun mengalami 80% perkembangan otak dibanding sesudahnya. Oleh karena itu perlu stimulasi fisik dan mental.

B. Karakteristik Anak Usia Dini

Karakteristik anak usia didik dapat dilihat secara lebih rinci sebagai berikut:

1. Usia 0-1 tahun

Pada masa bayi perkembangan fisik mengalami kecepatan yang luas biasa, paling cepat dibandingkan dengan usia selanjutnya. Beberapa karakteristik anak usia bayi dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Mempelajari keterampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri, dan berjalan.

b. Mempelajari keterampilan menggunakan panca indera, seperti melihat atau mengamati, meraba, mendengar, mencium, dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke mulut.

c. Mempelajari komunikasi sosial. Bayi yang baru lahir telah siap melaksanakan kontak sosial dengan lingkungannya, komunikasi responsif dari orang dewasa akan mendorong dan memperluas respon verbal dan verbal bayi.1

2. Usia 2-3 Tahun

Beberapa karakteristik khusus yang dilalui anak usia 2-3 tahun antara lain:

a. Anak sangat aktif mengekplorasikan benda-benda yang ada di sekitarnya.

b. Anak Mulai mengembangkan kemampuan berbahasa.

c. Anak mulai belajar mengembangkan emosi.

3. Karakteristik Usia 4-6 Tahun

Memiliki karakteristik antara lain:

a. Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan.

b. Perkembangan bahasa semakin baik.

c. Perkembangan kognitif(daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terhadap lingkungan sekitar.

d. Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial

4. Karakteristik Usia 7-8 Tahun

Perkemangannya antara lain:

a. Perkembangan kognitif anak masih berada pada masa yang cepat.

b. Perkembangan sosial, anak mulai ingin melepaskan diri dari otoritas orang tuanya.

c. Anak mulai menyukai permainan sosial

d. Perkembangan emosi. Emosi anak sudah mulai terbentuk dan tampak sebagai bagian dari kepribadian anak.

C. Kondisi Yang Mempengaruhi Anak Usia Dini

Secara garis besar ada dua faktor yang mempengaruhi kondisi anak usia dini yaitu:

1. Faktor bawaan, adalah faktor yang diturunkan dari kedua orang tuanya, baik yang bersifat fisik maupun psikis

2. Faktor lingkungan, adalah faktor yang berasal dari luar faktor bawaan, meliputi seluruh lingkungan yang dilalui oleh anak, lingkungan dibagi dua, yaitu lingkungan dalam kandungan dan lingkungan luar lingkungan.

D. Pola Perkembangan Anak Usia Dini

Secara umum anak mengikuti pola perkembangan yang sama, beberapa pola tersebut diantaranya:

1. Perkembangan fisik.

Perkembangan fisik mengikuti hukum cephalocaudal menyatakan bahwa perkembangan dimulai dari kepala kemudian menyebar keseluruh tubuh. Sedangkan hukum proximodistal menyatakan bahwa perkembangan bergerak dari sumbu pusat tubuh ke bagian yang lebih jauh.

2. Perkembangan bergerak dari tanggapan umum menuju ke tanggapan khusus.

3. Perkembangan beransung secara berkesinambungan

4. Terdapat periode keseimbangan dan ketidak keseimbangan

5. Terdapat tugas perkembangan yang harus dilalui anak mulai dari waktu ke waktu.

E. Cara Belajar Anak Usia Dini

Cara belajar anak usia dini tergantung usianya. Secara garis besar dapat kita uraikan yaitu:

1. Usia 0-1 Tahun

Anak belajar dengan mengandalkan kemampuan panca inderanya, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, peraba dan perasa.

2. Usia 2-3 Tahun

Anak melakukan proses belajar dengan lebih sungguh-sungguh. Ia memperhatikan apa saja yang ada dilingkungannya untuk kemudian ditiru.

3. Usia 4-6 Tahun

Kemampuan bahasa anak semakin baik.

4. Usia 7-8 Tahun

Perkembangan anak dari berbagai aspek sudah semakin baik.

III. PROGRAM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Setiap anak terlahir cerdas ia dapat diajarkan apa saja, dengan dua syarat: tidak dipaksa, dan anak merasa enjoy melakukannya.

”Hal utama yang membedakan karakteristik program pendidikan anak usia dini adalah tuntutan tingkat perkembangan dan cara belajarnya”

A. Karakteristik program Pendidikan Anak Usia Dini

Beberapa karakteristik program pendidikan anak usia dini antara lain:

1. Karakteristik Guru, lebih cenderungg menunjukkan keceriaan, kerjasama, dan keterlibatan secara total dengan kegiatan anak. Sehingga guru mudah mengarahkan dan membimbing anak untuk mengembangkan potensinya.

2. Materi pelajaran, lebih terintegrasi, yaitu suatu program pembelajaran yang dapat menyajikan sesuatu aktivitas belajar anak secara terpadu. Kegiatan belajar anak tidak dipilah-pilah kedalam mata pelajaran, melainkan disajikan secara integratif dalam suatu aktifitas yang dilakukan oleh anak

3. Metode pendidikan, lebih menekankan metode yang rekreatif daripada metode ceramah.

4. Media dan sarana, perlu dipilih media dan sarana yang memudahkan dan memancing anak untuk aktif terlibat, aman dan menyenangkan.

5. Desain ruangan, perlu lebih meriah, kreatif dan menantang bagi anak untuk bereksplorasi.

6. Sistem evaluasi, lebih bersifat natural, alamiah. Anak melakukan kegiatan dan pendidik mengamati dan memberikan penilaian.

B. Prinsip-Prinsip Pendidikan Anak Usia Dini

Secara khusus penulis mengelompokkan prinsip pendidikan anak usia dini menjadi lima kategori yaitu:

1. Anak adalah peserta didik aktif

2. Menyediakan fasilitas agar anak belajar melalui bermain, dan bermain sambil belajar

3. Memberi kesempatan anak untuk berpartisipasi aktif

4. Mendorong anak untuk membangun dan mengembangkan idenya sendiri.

5. Memotivasi anak untuk mengembangkan potensi diri tanpa takut berbuat salah

C. Ruang Lingkup Materi Pendidikan Anak Usia Dini

Secara umum ruang lingkup pendidikan anak usia dini adalah segala hal yang berkait dengan diri sendiri dan lingkungannya. Diri sendiri seperti identitas pribadi dan anggota tubuh, sedangkan lingkungan dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan anak, yakni lingkungan keluarga ke lingkungan yang lebih jauh.

D. Bentuk-Bentuk Program Pendidikan Anak Usia Dini

Pada usia 0-2 tahun anak masih berada pada asuhan keluarga, kemudian pada usia 2-3 tahun anak-anak ada yang dititipkan pada Taman-taman pengasuhan anak, pada umur 3-4 tahun pendidikan anak-anak mulai dilakukan pada Play group sebelum memasuki Taman Kanak-kanak dengan kurikulum yang tidak baku meskipun ada maka penerapannya lebih fleksibel dan masuk sekolahnya tidak setiap hari. Pada umur 4-6 tahun setelah selesai pendidikan jenjang play group sebelum masuk sekolah dasar maka anak usia dini dimasukkan ke Taman Kanak-kanak terlebih dahulu. Ada TKA (Taman Kanak-kanak Alquran) materinya lebih menekankan pada materi Al-Quran.

IV. STRATEGI PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI

Orientasi belajar anak usia dini, bukan semata mengejar prestasi akademik. Namun lebih pada pengembangan diri. Anak yang memiliki pribadi positif mengandung nilai investasi yang jauh lebih berharga daripada prestasi akademik.

Strategi pengembangan anak yang efektif, dapat dilakukan melalui bermain sambil belajar, dan belajar seraya bermain.

A. Orientasi Pembelajaran Anak Usia Dini

Orientasi belajar anak usia dini bukan terfokus pada mengejar prestasi, seperti kemampuan membaca, menulis, berhitung dan penguasaan pengetahuan lainnya yang sifatnya akademis. Namun orientasi belajar lebih diarahkan pada pengembangan pribadi, seperti sikap dan minat belajar serta berbagai potensi dan kemampuan dasar anak.

B. Metode Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini

Metode pembelajaran untuk anak usia dini perlu dirancang dan dipersiapkan dengan baik dengan mempertimbangkan beberapa prinsip metode pembelajaran antara lain sebagai berikut:

1. Berpusat pada anak. Artinya penerapan metode berdasarkan kebutuhan dan kondisi anak, bukan berdasarkan keinginan dan kemampuan pendidik.

2. Partisipasi aktif. Maksudnya penerapan metode pembelajaran ditujukan untuk membangkitkan anak agar berpartisipasi aktif dalam proses belajar.

3. Bersifat holistik dan Integratif. Artinya kegiatan belajar yang diberikan kepada anak tidak terpisah menjadi bagian-bagian seperti pembidangan dalam pembelajaran, melainkan terpadu dan menyeluruh, terkait antara satu bidang dengan bidang lannya.

4. Fleksibel. Artinya metode pembelajaran yang diterapkan pada anak usia dini bersifat dinamis, tidak terstruktur dan disesuaikan dengan kondisi dan cara belajar anak yang tidak terstruktur.

5. Perbedaan Individual. Maksudnya tidak ada anak yang memiliki kesamaan walau kembar sekalipun.

C. Bahan dan Perlengkapan Belajar Anak Usia Dini

Berdasarkan karakteristik perkembangan anak dan metode pembelajaran yang terapkan untuk anak, maka ada beberapa kriteria untuk menentukan bahan dan perlengkapan belajar anak usia dini, antara lain:

1. Relevan dengan kondisi anak

2. Berwarna dan atraktif

3. Sederhana dan kongkrit

4. Eksploratif dan mengundang rasa ingin tahu

5. Berkait dengan aktivitas keseharian anak

6. Aman dan tidak membahayakan

7. Bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan

D. Pengorganisasian Kelas

Pengorganisasian kelas agar tercipta suasana belajar yang kondusif maka perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:

1. Ciptakan ruangan yang membangkitkan anak untuk beraktivitas dan memungkinkan anak untuk bereksplorasi sesuai dengan keinginannya.

2. Pengaturan sarana dan prasarana sedemikian hingga

3. Pengaturan waktu yang sesuai dengan kemampuan anak untuk berkonsentrasi terhadap suatu kegiatan

4. Pengaturan siswa secara klasikal anak dikelompokkan per 20 orang dengan 2 orang guru, anak tetap mendapatkan perhatian secara individual.

5. Pengaturan suasa usia dini diupayakan bersifat menyenankan, gembira, bahagia dan penuh keceriaan.

E. Penilaian

Beberapa hal yang menjadi prinsip dalam pelaksanaan penilaian untuk anak usia dini antara lain:

1. Penilaian dalam bentuk narasi atau penggambaran, bukan diwujudkan dengan simbol huruf atau angka.

2. Evaluasi dilakukan dengan observasi(pengamatan), bukan dengan teknis tes

3. Kesalahan dipandang sebagai suatu yang wajar, dan menjadi bagian dari proses belajar.

4. Bagian yang mendapat tekanan adalah sisi positif dan kelebihan anak, bukan kekurangan

5. Bagaimanapun hasil yang diperoleh beri penghargaan, anak tidak boleh dianggap gagal.

V. BERMAIN, CERITA DAN MENYANYI BAGI ANAK USIA DINI

Anak dapat berlajar apa saja melalui kegiatan bermain, cerita dan menyanyi.

Dengan bermain anak ceria dan bahagia

Melalui cerita, anak belajar berbahasa dan mengasah emosi

Dengan menyanyi, anak berekspresi dan berimajinasi

A. Dasar Pemikiran

Anak belajar dari apa yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan. Proses Belajar akan bersifat efektif apabila anak berada dalam kondisi senang dan bahagia. Sebaliknya proses belajar anak yang dipaksanakan atau diterima anak dalam keadaan takut, cemas, was-was dan perasaan lain yang tidak nyaman, tidak akan mampu memberikan hasil yang optimal.

B. Penerapan dan Manfaat Bermain

Bermain adalah segala kegiatan yang dapat menimbulkan kesenangan bagi anak dilakukan dengan suka rela, secara spontan, berorientasi pada proses bukan pada hasil, dan menghasilka kepuasan.

Adapun manfaat dari kegiatan bermain adalah:

1. Secara fisik, mengembangkan kemampuan otot dan kesehatan tubuh.

2. Secara psikis, mengembangkan berbagai aspek kepribadian dan sikap mental.

C. Penerapan dan Manfaat Cerita

Bercerita merupakan suatu stimulan yang dapat membangkitkan anak terlibat secara mental. Bercerita dapat dilakukan dengan menggunakan alat peraga atau tanpa alat peraga, dengan cara membaca buku cerita, menggunakan bahasa isyarat, menggunakan alat pandang dengar berupa kaset, televisi, vidio dan lain sebagainya.

Adapun manfaatnya adalah:

1. Mengembangkan fantasi,

2. Mengasah kecerdasan emosional,

3. Menumbuhkan minat baca,

4. Membangun kedekatan dan keharmonisan,

5. Media pembelajaran

D. Penerapan dan Manfaat Menyanyi

Menyani dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, seperti:

1. Menyanyi pasif, artinya anak hanya mendengarkan suara nyanyian atau musik dan menikamtinya tanpa terlibat langsung kegiatan menyanyi

2. Menyanyi aktif, artinya anak melakukan secara langsung kegiatan menyanyi, baik dilakukan sendiri, mengikuti atau bersama-sama.

Adapun manfaatnya adalah:

1. Memberikan suasana tenang

2. Mengasah emosi

3. Membantu menguatkan daya ingat

4. Mengasah kemampuan apresiasi

5. Sebagai alat dan media pembelajaran

VI. PERAN ORANG TUA BAGI PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI

Orang Tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Kasih sayang orang tua, menjadi modal utama bagi pengembangan diri anak untuk sepanjang usianya

A. Pentingnya Peran Orang Tua Bagi Pendidikan Anak

Pentingnya peran orang tua bagi pendidikan anak karena:

1. Orang tua adalah guru pertama bagi anak

2. Orang tua adalah pelindung utama bagi anak

3. Orang tua adalah sumber kehidupan bagi anak

4. Orang tua adalah tempat bergantung bagi anak

5. Orang tua merupakan sumber kebahagiaan bagi anak

B. Peran Orang Tua Bagi Pengembangan Anak

Peran orang tua bagi pendidikan anak yaitu:

1. Memelihara kesehatan fisik dan mental anak

2. Meletakkan dasar kepribadian yang baik

3. Membimbing dan memotivasi anak untuk mengembangkan diri

4. Memberikan fasilitas yang memadai bagi pengembangan diri anak

5. Menciptakan suasana yang aman, nyaman dan kondusif bagi pengembangan diri anak.

C. Hubungan Orang Tua Dengan Guru

Tugas guru bukanlah mengambil alih pendidikan dalam keluarga melainkan meneruskan dan membantu orang tua untuk mengembangkan potensi anak. Demikian juga orang tua tidak mengalihkan tugas pendidikan dan memasrahkan sepenuhnya tugas tersebut kepada guru. Orang tua dan guru saling bekerjasama dalam pendidikan anak saling mendukung dengan semua semua program yang telah dilaksanakan oleh guru.

VII. PENGARUH PENDIDIKAN BAGI PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

Setiap anak terlahir cerdas. Lingkungan dan pendidikanlah yang akan menentukan apakah kecerdasan tersebut dapat terwujud.

A. Pengaruh Pendidikan Bagi Perkembangan Fisik

Pengaruh pendidikan anak bagi perkembangan fisik:

1. Fisik berkembang lebih baik, karena mendapatkan perhatian dan pemenuhan kebutuhan yang memadai.

2. Fisik berkembang lebih kuat, karena ada kesempatan yang leluasa bagi anak untuk beraktivitas dan menggerakkan otot.

3. Anak termotivasi untuk melakukan berbagai aktivitas.

4. Anak terhindar dari hal-hal yang mengganggu dan membahayakan perkembangan fisik.

5. Anak memiliki konsep diri positif.

B. Pengaruh Pendidikan Bagi Perkembangan Moral

Pendidikan akan mempengaruhi perkembangan moral anak yaitu:

1. Anak memiliki kesempatan luas untuk berinteraksi sosial

2. Anak mampu memahami hal-hal yang benar dan yang salah berdasarkan pengalaman yang dialami dan penjelasan yang diterima

3. Tumbuh keinginan dalam diri anak untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar

4. Anak memiliki rasa malu dan bersalah bila melakukan hal-hal yang melanggar norma dan aturan yang berlaku.

5. Anak memiliki hati nurani sebagai kendali internal bagi perilaku anak sehari-hari.

C. Pengaruh Pendidikan Bagi Perkembangan Emosional

Pengaruh pendidikan bagi perkembangan emosional, antara lain:

1. Anak mengembangkan emosi positif berdasarkan apa yang dia lihat, ia dengar dan ia rasakan

2. Anak terlatih untuk mengembangkan emosi positif

3. Anak Mengembangkan emosi positif sebagai emosi yang dominan

4. Anak terlatih untuk mengendalikan emosi dan menetralkan emosi(Katarsis emosi)

5. Anak mampu meredam gejolak emosi

D. Pengaruh Pendidikan Bagi Perkembangan Intelektual

Pengaruh pendidikan bagi perkembangan intelektual yaitu:

1. Anak dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya secara lebih baik.

2. Anak memiliki konsep positif terhadap apa saja yang dikenal dan di ketahui.

3. Anak dapat mengembangkan segenap potensi yang dimiliki sesuai dengan kemampuan yang ada.

E. Pengaruh Pendidikan Bagi Perkembangan Spiritual

Pengaruh pendidikan bagi perkembangan spiritual anak antara lain:

1. Anak memiliki pengalaman spiritual yang memadai sebagai landasan bagi pengembangan spriritual anak.

2. Anak mengenal dan memahami nilai-nilai spiritual secara lebih baik

3. Anak memiliki kematangan spiritual pada saat yang tepat.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment